Hijauku Bumiku, Hutan ku

Dayak Menjerit


Bau hutanku sudah tak tercium lagi, tertutup bau asap

Sungaiku tak bisa mengantarkan aku pada tujuan

Tanahku sudah bukan milikku lagi, tapi milik mereka yang berkantong gendut

Anak-anakku sudah tak betah lagi di rumah, ingin merantau ke seberang untuk mencari hidup yang enak

Rumah kayuku sudah tidak modis lagi, terlalu kuno dan tidak mewah

Tarian magisku hilang berganti menjadi pertunjukkan pariwisata, yang tak kumengerti maknanya

Orang-orang berbakatku bergantian tarik-menarik, dorong-mendorong menaiki pohon kekuasaan

Aku yang lahir tanpa tanah warisan, tanpa rumah pribadi dan tanpa uang tabungan milyaran ini bahkan tanpa tau kayu “Lanan Keu” lagi

 

Tiap hari aku menjadi penonton manis acara pameran kekuasaan dan kekayaan

Seusai suaraku dikumpulkan untuk dijadikan kekuatan para penguasa, aku di suruh naik gunung lagi, bersembunyi dan hidup dalam hutan yg sekarat, sesekarat aku dan keturunanku kini berkeringat untuk mengisi perutku hari ini, sambil berdoa agar hujan tak turun

Lalu kujual karet dan sawit pada para pedagang dan para pemilik modal, kujual dengan penuh kemurahan hati, walau lapar ini terus menggigit dan malaria ini memberangus tubuhku

Siapa bilang kami miskin, kami punya banyak emas mentah yg murah dengan mengorbankan sungai kami dalam merkuri

Meskipun kami pun punya sumber tenaga listrik dari si hitam batu bara

Kami hanya mendapat jatah penyalaan 8 jam sekali, tak bisa nonton acara tv lain selain TVRI

Bahkan kalaupun kami sangat ingin membelinya, masih tak ada orang sakti yang menjual hp sekaligus sinyalnya

Padahal sudah tak ada lagi pohon yang menjulang tinggi yang bisa menghalangi sinyal itu datang ke kami

Siapa bilang kami malas sekolah, kami rela berjalan kaki berkilo-kilo ke sekolah

Tapi kami tak punya guru yang banyak dan semua buku yang lengkap

 Ke manakah kesaktian nenek moyangku?

Ke manakah berkah mereka untuk membuat anak-cucunya sejahtera?

About Hijaukubumiku

Jangan Pernah berhenti Untuk memperkecil Kerusakan lingkungan Satu Pohon seribu Kehidupan

Diskusi

2 thoughts on “Dayak Menjerit

  1. Tanahku sudah bukan milikku lagi

    Posted by novita | 24/09/2011, 7:02 am

Coretan Dinding

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Coretan Dinding

%d blogger menyukai ini: