Psikologi

Agorafobia


Agorafobia adalah orang yang merasa takut atau merasa cemas saat berada di tempat-tempat yang memungkinkan dirinya terserang rasa panik, dan pada saat panik tersebut disaksikan banyak orang, tetapi tidak ada tempat baginya untuk menghindar atau sulit untuk menyingkir dari tempat tersebut.

Penderita agorafobia mempunyai ciri spesifik yakni kecemasan yang timbul pada saat berada di keramaian, tempat antrian, tempat umum, pusat-pusat perbelanjaan, kendaraan-kendaraan umum, berpergian ke luar rumah dan berpergian sendiri. Ciri ini membedakan agrophobia dengan fobia sosial, dimana pada sosial fobia yang hanya pada kondisi sosial tertentu saja.

Penderita ini merasa sangat tidak nyaman berada di tempat-tempat keramaian, sehingga mereka cenderung lebih memilih untuk tinggal di rumah. Pada Agoraphobia, ketakutan pada tempat terbuka atau keramaian lebih disebabkan, rasa takut dipermalukan di depan umum atau merasa tak berdaya, pada saat kepanikan datang menyerang dirinya. Kejadian ini mungkin tidak akan terjadi kalau mereka sedang berada di rumah. Itulah sebabnya mereka lebih senang tinggal di rumah.

Kata agorafobia berasal dari bahasa Mesir yaitu agora dan phobos, berarti takut akan tempat berjualan. Sedangkan agorafobia terjadi pada usia berapa saja, dan perempuan lebih banyak dibanding kaum pria. Pada umumnya agorafobia mengikuti suatu trauma.

Menurut Sigmund Freud, agorafobia disebabkan konflik yang berpusat pada situasi oedipal masa anak-anak yang tidak terpisahkan, kemungkinannya adalah pada masa kanak-kanak keterdekatan anak pada orangtua yang berlebihan, sehingga anak mempunyai kelekatan erat. Ketergantungan emosional inilah yang memunculkan gangguan tersebut sementara pada masa itu anak harus melakukan kontak sosial dengan orang lain.

Teori psikoanalisa juga menekankan kematian orangtua pada masa anak-anak dan suatu riwayat kecemasan yang mendalam pada perpisahan juga dapat memicu gangguan tersebut.

Selanjutnya psikoanalisa menjelaskan bahwa rasa sendiri (a loneliness) yang mendalam ketika individu berada dalam keramaian akan menghidupkan kembali kecemasan-kecemasan yang pernah dialami dulu, ketika masa kecil, perasaan-perasaan dan kenangan saat terlantarkan akan kembali timbul. Kecemasan tersebut mempengaruh pikiran bawah sadar yang berakibat munculnya gangguan tersebut.

Penyebab :

Penyebab agarofobia masih belum diketahui dengan pasti, diduga sebagai komplikasi dari panic disorder

Gejala-gejala dan Tanda-tanda

Tanda-tanda Agarophobia sulit untuk dikenali pada saat penderita dalam keadaan normal atau saat berada di rumah. Tetapi tanda-tanda ini akan muncul pada saat mereka dalam kepanikan.

Tanda-tanda fisik yang dapat dijumpai:

  • detak jantung meningkat
  • napas pendek-pendek dan cepat
  • merasa gerah, berkeringat
  • rasa tidak nyaman di perut
  • diare
  • sulit menelan
  • mual
  • gemetaran
  • pusing
  • telinga mendenging
  • serasa mau pingsan

Tanda-tanda secara psikologis:

takut kalau orang lain tahu ia sedang panik dan kemudian mempermalukannya
takut kalau detak jantung dan napasnya berhenti, selama dalam keadaan panik
takut menjadi gila
kurang percaya diri
merasa tidak mampu mengontrol diri
depresi, bila sudah berat
takut ditinggal sendiri
merasa tidak berdaya atau tidak berguna, tanpa bantuan orang lain

Tanda-tanda dalam Perilaku

menghindari suasana atau lingkungan yang memicu kekawatiran atau kegelisahan
membutuhkan orang lain untuk mententramkan hatinya, seperti mengajak teman saat pergi ke pusat-pusat perbelanjaan atau saat naik kendaraan umum.
meminum obat-obatan, minuman-minuman tertentu atau mengunyah gula-gula saat akan pergi ke tempat-tempat keramaian untuk menenangkan hati.
menghindar atau melepaskan diri dari situasi-situasi yang penuh tekanan dan segera pulang ke rumah.

Pengelolaan

Penderita agorafobia sangat sulit untuk disembuhkan, akan tetapi penderita tidak perlu putus asa karenanya. Konseling secara langsung akan lebih efektif untuk mengatasi gangguan ini meskipun, beberapa saran yang mungkin dapat dilakukan untuk sementara waktu,

Penderita diharapkan untuk tetap selalu berusaha untuk sembuh. Penderita hendaknya berusaha untuk tetap bergaul dan keluar dari kamar atau rumah.
Intervensi kognisi dengan pemikiran yang positif dan penerimaan diri apa adanya. Mengubah pikiran negatif berupa (rasa takut) dengan pikiran positif bahwa ketakutan tersebut tidak beralasan, selanjutnya mengubah kebiasaan perilaku untuk menumbuhkan keberanian terus tampil di publik.
Dukungan tulus (penuh cinta-kasih) dari keluarga, dukungan moral dan suportif sangat dibutuhkan, ini juga merupakan bentuk dari terapi keluarga (family therapy)
Relaksasi seluruh anggota badan untuk mengurangi kecemasan yang dapat meregangkan syaraf-syaraf otot.

Jauhkan diri dari sumber-sumber konflik yang memungkinkan untuk dihindari, berikan rasa nyaman dalam pikiran dan badan Anda sementara waktu
Dekatkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa, akan memberikan ketenangan yang lebih mendalam dalam penyembuhan.

About Hijaukubumiku

Jangan Pernah berhenti Untuk memperkecil Kerusakan lingkungan Satu Pohon seribu Kehidupan

Diskusi

Belum ada komentar.

Coretan Dinding

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Coretan Dinding

%d blogger menyukai ini: