Pecinta Alam

DASAR DASAR NAVIGASI


 

Navigasi adalah pengetahuan untuk mengetahui keadaan medan yang akan

dihadapi, posisi kita di alam bebas dan menentukan arah serta tujuan perjalanan di alam

bebas.

Pengetahuan tentang navigasi darat ini merupakan bekal yang sangat penting bagi

kita untuk bergaul dengan alam bebas dari padang ilalang, gunung hingga rimba

belantara. Untuk itu memerlukan alat-alat seperti:

1. Peta topografi

2. Penggaris

3. Kompas

4. Konektor

5. Busur derajat

6. Altimeter

7. Pensil

Pengetahuan tentang navigasi darat ini meliputi :

1. Pengenalan Peta

2. Pengenalan Kompas

3. Memakai peta dan kompas

dalam satu kesatuan

I. PENGENALAN PETA

Peta adalah gambaran seluruh atau sebagian permukaan bumi yang diproyeksikan

dalam dua dimensi pada bidang datar dengan metode dan perbandingan tertentu.

Peta yang biasanya digunakan dalam kegiatan pendakian gunung adalah peta

topografi. Selain pendaki gunung, jenis peta ini juga dipakai oleh militer.kandungan

informasi yang dimiliki oleh peta topografi seperti relief permukaan bumi, hutan,

pemukiman penduduk, jaringan sungai, jalan dan sebagainya, keistimewaan peta

topografi adalah skala yang besar namun hal ini menyebabkan peta topografi itu hanya

menggambarkan suatu wilayah kecil saja.

Ukuran peta topografi sebagai berikut :

– Skala 1 : 50.000

– Skala 1 : 25.000

– Skala 1 : 5.000

Bagian –bagian pada peta :

1. Judul Peta

Adalah identitas yang tergambar pada peta, ditulis  nama daerah atau identitas lain

yang menonjol.

2. Keterangan Pembuatan

Merupakan informasi mengenai pembuatan dan instansi pembuat. Dicantumkan di

bagian kiri bawah dari peta. Keterangan ini digunakan untuk menghitung sudut variasi magnetisnya karena kutub magnetis selalu berubah setiap tahun disebabkan

pengaruh rotasi bumi. Variasi ini dinamakan “Deklinasi”, variasi deklinasi ini sangat

berpengaruh terhadap perhitungan dalam menggunakan peta dan kompas.

3. Nomor Peta (Indeks Peta)

Nomor peta berguna untuk memudahkan kita mencari peta yang dibutuhkan.

4. Pembagian Lembar Peta

Adalah penjelasan nomor-nomor peta lain yang tergambar di sekitar peta yang

digunakan, bertujuan untuk memudahkan penggolongan  peta bila memerlukan

interpretasi suatu daerah yang lebih luas.

5. Sistem Koordinat

Adalah perpotongan antara dua garis sumbu koordinat. Macam koordinat adalah:

a. Koordinat Geografis

Sumbu yang digunakan adalah garis bujur (BB dan BT), yang berpotongan dengan

garis lintang (LU dan LS) atau koordinat yang penyebutannya menggunakan garis

lintang dan bujur. Koordinatnya menggunakan derajat, menit dan detik. Misal Co

120° 32′ 12″ BT 5° 17′ 14″ LS.

b. Koordinat Grid

Perpotongan antara sumbu absis (x) dengan ordinal (y) pada koordinat grid.

Kedudukan suatu titik dinyatakan dalam ukuran jarak (meter), sebelah selatan ke

utara dan barat ke timur dari titik acuan.

c. Koordinat Lokal

Untuk memudahkan membaca koordinat pada peta yang tidak ada gridnya, dapat

dibuat garis-garis faring seperti grid pada peta.

Skala bilangan dari sistem koordinat geografis dan grid terletak pada tepi peta. Kedua

sistem koordinat ini adalah sistem yang berlaku secara internasional. Namun dalam

pembacaan sering membingungkan, karenanya pembacaan koordinat dibuat

sederhana atau tidak dibaca seluruhnya.

Misal: 72100 mE dibaca 21, 9° 9700 mN dibaca 97, dan lain-lain.

6. Skala Peta

Adalah perbandingan jarak di peta dengan jarak horisontal sebenarnya di medan atau

lapangan. Rumus jarak datar dipeta dapat di tuliskan                 JARAK DI PETA x SKALA = JARAK DI MEDAN

Penulisan skala peta biasanya ditulis dengan angka non garis (grafis).

Misalnya Skala 1:25.000, berarti 1 cm di peta sama  dengan 250 m di medan yang

sebenarnya.

7.  tanda peta

tanda peta adalah gambar bagaian-bagaian atau benda-benda medan yang

digambarkan dengan tanda-tanda tertentu dan telah ditentukan

8. Garis Kontur atau Garis Ketinggian

Garis ketinggian adalah merupakan garis perbatasan bidang yang merupakan tempat

kedudukan titik-titik dengan ketinggian sama terhadap bidang referensi (pedoman)

acuan tertentu.

Garis kontur adalah gambaran bentuk permukaan bumi pada peta topografi.

Garis kontur dimaksudkan untuk mengetahui ketingian suatu daerah atau tempat dari

permukaan laut dan juga dapat digunakan untuk mengenali atau mengetahui keadaan

medan yang sebenarnya dilapangan.

Ciri – ciri garis kontur

• Garis kontur yang lebih rendah selalu mengelilingi  garis ketinggian yanglebih

tinggi, kecuali pada awal. Pada kawah garis konturnya ditambahkan titik – titik

yang lebih tinggi mengelilingi kontur yang lebih rendah.

• Kerapatan garis kontur yang berubah – ubah tidak memengaruhi beda ketinggian

garis kontur tersebut.

• Untuk daerah datar/landai gambar konturnya jarang – jarang, sedangkan untuk

daerah yang terjal atau curam garis konturnya rapat. • Pungungan gunung/bukit terlihat di peta sebagai rankaian kontur berbentuk ”U”

yang menjorok keluar menjauhi puncak.

• Lembah terlihat dipeta sebagai huruf ”V” yang ujungnya tajam dan menjorok ke

dalam kearah puncak.

• Garis kontur terdiri dari dua macam, garis kontur tebal yang dikenal dengan nama

”intermediate countour” dan garis kontur tipis yang dikenal dengan nama ”index

countour” atau disebut juga internal kontur. Untuk  peta terbitan bakosurtanal,

garis kontur yang tipis atau yang berada diantara dua garis kontur tebal berjumlah

tiga buah garis kontur dan selang garis konturnya untuk peta skala 1:50.000

adalah 25 meter, sedangkan untuk skala peta 1:25.000 adalah 12,5 meter.

Macam – macam tinggi

1.Tinggi Mutlak:

• Diukur dari permukaan laut, merupakan standardisasi penukuran.

• Pengukuran dilakukan pada waktu pasang surut. Tempat pengukurannya

dinamakan Peil.

• Tiggi mutlak digunakan sebagai titik yang menunjang ketiggian sebenarnya dari

permukaan laut.

• Tinggi mutlak juga digunakan untuk mengetahui tinggi nisbi relatif.

2.Tinggi Nisbi:

• Diukur dari tempat di mana benda itu berada.biasanya pengukuran

dilakukan/diambil dari permukaan tanah.

• Tinggi nisbi merupakan perbedan tingi dari dua titik atau tempat yang diukur.

• Tinggi nisbi dari tiap – tiap tempat tidak selalu sama. Artinya, mungkin bisa sama

mungkin pula tidak sama.

Penentuan Suatu Titik atau Tempat di  Peta

Menentukan suatu titik atau lokasinya di peta dapat dilakukan dengan beberapa

cara – cara ,yaitu:

1. Cara Kordinat Geografi

Sistem koordinat geografi ini adalah suatu sistem untuk menetukan kedudukan

suatu titik atau tempat di permukaan bumi (dalam bidang lengkung) sistem ini dinyatakan dalam derajat dengan meridian greenwich  sebagai lintang 0

o

.

sistem ini dipakai saat ini untuk navigasi dengan GPS Receiver.

Contoh: Misalkan titik A berada pada 6

o

12’ LS dan 106

o

53 ‘ BT

2. Cara Koordinat Peta

Sistem ini adalah untuk menentukan kedudukan suatu titik/tempat pada suatu

peta. Lembar peta dibagi atas garis – garis koordinat, yaitu garis mendatar

(sumbuh X/absis) nomor urut dari barat ke utara.

Koordinat peta dinyatakan dalam satuan panjang. Ada dua car untuk

menyatakan koordinat peta, yaitu:

• Cara 4 angka : Digunakan untuk memperlihatkan posisi suatu tempat

yang cukup lebar, missalnya untuk menunjukan lokasi kampung,

danau dan sebagainya. Jarak kira _kira 1000 meter. (sisi bujur sangkar

dibagi 1.000 meter)

• Cara 6 angka : Digunakan untuk menunjukan lokasi yang yang sempit.

Lokasi kemah, titik pertemuan (check point), dan lain –lain. Jarak 100

meter. (sisi bujur sangkar dibagi 10 bagian)

Contoh : dengan memakai sistem koordinat 6 angka, misalnya posisi kita pada

“X” antara 64 dengan 65, sedangakan pada garis”Y” antara 57 dengan 56. Garis – garis

ini kemudian dibagia atas 10 bagian. Berdasarkan pembagian itu, tentukan pada bagian

mana posisi kita tersebut. Dengan sistem 6 angka posisi kita adalah 641579, sedangkan

dengan sistem 4 angka posis kita adalah 6457. sebelum kode tersebut kita nyatakan, kadang –kadang perlu disebutkan terlebih dahulu kode lembar peta bersangkutan seperti

yang tercantum dibagian atas setiap lembar peta.

Ada beberapa sistem cara penentuan posisi yang lain seperti cara Karvak, Titik

pankal, dan car garis pangkal.semua sistem tersebut tidak dibahas disini.

Utara Peta (UP)

Utara peta adalah bagian atas dari peta yang ditunjukkan dengan garis – garis

tegak lurus atau sumbuh Y dari Grid peta. Utara peta disebut juga Grid North. Garis –

garis Y dan X terbentuk dari proyeksi yang dihasilkan dengan garis bujur dan lintang

bumi pada peta dan kemudia diproyeksikan kedalam koordinat (Grid). Utara peta ini

sangat perlu diketahui karenah sering digunakan dalam berorientasi medan.

Utara Magnetis (UM)

Utara magnetis adalah arah yang ditunjukan oleh jarum kompas, yaitu suatu

tempat tertentu ke kutupautara magnetis bumi yang terletak si Jazirah Boshia, di sebelah

utara Kanada. Utara magnetis atau Magnetis North, dilambangkan dengan  setengah anak

panah. Utara magnetis di indinesia bergerak disebelah timur dari utara peta. Utara

magnetis hanya ada di medan lapangan.

Iktilaf  Peta/Deklinasi

Dengan anggapan bumi adalah lonjongan maka mudah untuk memperbanyak hal

ini. Proyeksi pada sistem meridian paralel bumi yang berbentuk elipsi tersebut jika kita

pindahkan padah sistem grid peta atau kedalaman bidang datara akan jelas sekali akan

tidak tepat serta akna terdapat  perbedaan – perbedaan.  perbedaan – perbedaan inilah

yang disebut deknilasi.

Iktilaf  Magnetis

Bukan hanya pada utara peta (UP) dan utara sebenarnya (US) saja terjadi

penyimpangan. Kutub utara magnet dan kutub sebenarnya juga berbeda letak titiknya. Ini

berarti ada penyimpangan pada iktilaf magnetis sudut yang dibentuk oleh utara

sebenarnya (US) dengan utara magnetis (UM) ke arah  barat atau timur. Yang menjadi pokok  perhitungannya adalah utara sebenaranya (US). Ini juga bergantung pada letak

titik atau tempat tersebut di bumi. Sebagai contoh misalnya Iktilaf  magnetis (IM) = 8

o

timur maka berarti sudut antara US dan UM besarnya  akan 8

o

ke arah  timur atau

kekanan (dengan catatan pengamat berada di sebelah kiri utara magnetis). Jika pengamat

berda disebelah barat mjaka dia juga berad di sebelah kiri. Perhitungan Deklinasi atau

iktilaf  peta atau juga Iktilaf Magnetis ini dicantumkan pada lembaran peta.

Ikhtilaf  Utara Peta (UP), Utara magnetis (UM)

Yaitu sudut yang dibentuk oleh utara peta dengan utara magnetis ke bara atau ke

timur dan yang menjadi pokok utamanya adalah utara peta .

Sudut Peta

Sudut peta merupakan suatu sudut yang terbentuk oleh dua buah garis. Garis yang

satu menuju kearah utara peta (UP) dan yang lainnya menuju sasaran atau obyek.

 

Sudut Kompas

Sudut kompas adalah suatu sudut yang dibentuk oleh dua buah garis lurus, yang

satu menuju utara magnetis (UM) dan yang lainnya menuju sasaran. Untuk catatan, sudut

peta hanya digunakan/ terdapat di peta/kompas dan sudut kompas hanya ada di medan

lapangan.

Variasi Magnetis

Varisi magnetis adalah perbedaan antara ikhtilaf magnetis pada waktu yang

berlainan. Oleh karena pengaru peputaran atau rotasi bumi dan juga peputaran bumi

mengelilingi matahari yang dikenal juga dengan sebutan revolusi maka kutub utara

magnetis selaluh berubah – ubah. Perputaran bumi ini menimbulkan suatu gaya

mendorong keluar atau dikenal juga dengan gaya sentripental. Letak kutub magnetis

bumi selalu berubah pada setiap tahunnya. Ini juga menyebabkan ikhtilaf magnetis atau

kutub utara magnetis juga berubah. Perbedaan – perbedaan ikhtilaf peta inilah yang

disebut Variasi Magnetis. Variasi Magnetis  tidak sama pada beberapa tempat. Di Indonesia sendiri pada umumnya ditetapkan 2” per tahunnya. Pada peta topografi yang

lama digunaka tabel Variasi Magnetis, dan pada peta topografi peralihan, Variasi

Magnetis dan deklinasinyadigambarkan dengan sudut, dan ini terletak di kiri bawah peta.

Penulisan Variasi Magnetis dinyatakan juga dengan Variasi rata – rata pada tiap

tahunnya. Ada juga peta yang tidak mencantumkan ikhtilaf peta, melainkan hanya

ikhtilaf Magnetis. Pada peta model seperti ini, iktilaf peta bisa kita dapat kan dengan

melihat pada batas sebelah kiri atau kanan pada peta dan disana tertulis “Grid

Declination” atau ikhtilaf peta.  II. PENGENALAN KOMPAS

Kompas adalah peralatan umum yang paling dikenal dan paling populer di dunia sebagai

alat petunjuk arah. Kompas mempunyai jarum yang berfungsi menunjukkan arah mata

angin. Kompas mempunyai pembagian arah mata angin sebanyak 32 buah dan garis

pembagi derajat dari 0

o

samapi 359

o

, arah yang ditunjukkan oleh jarum kompas inilah

yang dikenal dengan sebutan arah medan magnetik bumi, bukan arah kutub yang

sebenarnya.

Bagian-bagian kompas

1. Jarum kompas/jarum magnet

Jarum kompas merupakan bagian terpenting pada sebuah kompas. Jarum ini dibuat

dengan menggunakan magnet.

2. Piringan derajat

di dalam kompas ada lingkaran yang terdiri atas garis-garis. Garis ini dikenal dengan

garis pembagi skala derajat. Cara membaca skala derajat ini searah dengan jarum jam

yang dimulai dari arah utara magnetis, kemudian melingkar menuju titik utara magnetis,

kemudian melingkar menuju titik utara magnetis kembali.

3. Skala piringan derajat

Ada banyak macam untuk skala piringan derajat ini. Pembagian derajat internasional atau

standarnya adalah seperti sudut lingkaran yaitu 360

o

kompas militer mempunyai skala .

6.000’: 6.300’ atau 64.00’

4. Rumah Kompas

Merupakan tempat bagian kompas tersebut berada. Didalam rumah kompas biasanya juga

diberi cairan bening sebagai penangkal luar. Cairan ini berfungsi melindingi kompas

terutama dalam suhu -4

o

C sampai 50

o

C

Pada umumnya para penaki mengenal dua tipe kompas yang sering mereka gunakan di

lapangan. Kedua macam kompas tersebut adalah :

1. Kompas bidik atau kompas Prisma

kompas ini umumnya digunakan oleh militer, ettapi tidak menutup kemungkinan bagi

pendaki gunung untuk memakainya. 2. Kompas protaktor/orientasi

Kompas jenis ini sudah dilengkapi dengan busur derajat dan penggaris. Kompas ini

sangat mudah digunakan. Terkadang kompas ini dilengkapi alat bidik. Jenis kompas ini

banyak digunakan oleh kalangan penggiat kegiatan orientenering. Di Indonesia kompas

ini dikenal dengan sebutak kompas Silva   MEMAKAI PETA DAN KOMPAS

DALAM SATU KESATUAN

A. MENGHITUNG HARGA INTERVAL KONTUR

Pada peta skala 1 : 50.000 dicantumkan interval konturnya 25 meter. Untuk

mencari interval kontur berlaku rumus 1/2000 x skala peta. Tapi rumus ini tidak berlaku

untuk semua peta, pada peta GUNUNG MERAPI/1408-244/JICA TOKYO-

1977/1:25.000, tertera dalam legenda peta interval konturnya 10 meter sehingga berlaku

rumus 1/2500 x skala peta. Jadi untuk penentuan interval kontur belum ada rumus yang

baku, namun dapat dicari dengan:

1. Cari dua titik ketinggian yang berbeda atau berdekatan. Misal titik A dan B.

2. Hitung selisih ketinggiannya (antara A dan B).

3. Hitung jumlah kontur antara A dan B.

4. Bagilah selisih ketinggian antara A – B dengan jumlah kontur antara A – B, h

asilnya adalah Interval Kontur.

B. MENGENAL TANDA MEDAN

Selain tanda pengenal yang terdapat pada legenda peta, untuk keperluan orientasi

harus juga digunakan bentuk-bentuk bentang alam yang mencolok di lapangan dan

mudah dikenal di peta, disebut Tanda Medan. Beberapa tanda medan yang dapat dibaca

pada peta sebelum berangkat ke lapangan, yaitu:

1. Lembah antara dua puncak

2. Lembah yang curam

3. Persimpangan jalan atau Ujung desa

4. Perpotongan sungai dengan jalan setapak

5. Percabangan dan kelokan sungai, air terjun, dan lain-lain.

Untuk daerah yang datar dapat digunakan:

1. Persimpangan jalan

2. Percabangan sungai, jembatan, dan lain-lain.  C. MENGGUNAKAN PETA

Pada perencanaan perjalanan dengan menggunakan peta topografi, sudah tentu

titik awal dan titik akhir akan diplot di peta. Sebelum berjalan catatlah:

1. Koordinat titik awal (A)

2. Koordinat titik tujuan (B)

3. Sudut peta antara A – B

4. Tanda medan apa saja yang akan dijumpai sepanjang lintasan A – B

5. Berapa panjang lintasan antara A – B dan berapa  kira-kira waktu yang

dibutuhkan untuk menyelesaikan lintasan A -B.

Yang perlu diperhatikan dalam melakukan suatu operasi adalah

a) Kita harus tahu titik awal keberangkatan kita, baik di medan maupun di peta.

b) Gunakan tanda medan yang jelas baik di medan dan di peta.

c) Gunakan kompas untuk melihat arah perjalanan kita, apakah sudah sesuai dengan

tanda medan yang kita gunakan sebagai patokan, atau belum.

d) Perkirakan berapa jarak lintasan. Misal medan datar 5 krn ditempuh selama 60

menit dan medan mendaki ditempuh selama 10 menit.

e) Lakukan orientasi dan resection, bila keadaannya memungkinkan.

f) Perhatikan dan selalu waspada terhadap adanya perubahan kondisi medan dan

perubahan arah perjalanan. Misalnya dari pnggungan curam menjadi punggungan

landai, berpindah punggungan, menyeberangi sungai,  ujung lembah dan lainlainnya.

g) Panjang lintasan sebenarnya dapat dibuat dengan cara, pada peta dibuat lintasan

dengan jalan membuat garis (skala vertikal dan horisontal) yang disesuaikan

dengan skala peta. Gambar garis lintasan tersebut (pada peta) memperlihatkan

kemiringan lintasan juga penampang dan bentuk peta. Panjang lintasan diukur

dengan mengalikannya dengan skala peta, maka akan didapatkan panjang lintasan

sebenarnya.

D. MEMAHAMI CARA PLOTTING DI PETA

Plotting adalah menggambar atau membuat titik, membuat garis dan tandatanda

tertentu di peta. Plotting berguna bagi kita dalam  membaca peta. Misalnya Tim Bum

berada pada koordinat titik A (3986 : 6360) + 1400  m dpl. SMC memerintahkan Tim

Buni agar menuju koordinat titik T (4020 : 6268) + 1301 mdpl. Maka langkah-langkah

yang harus dilakukan adalah :

a. Plotting koordinat T di peta dengan menggunakan  konektor. Pembacaan

dimulai dari sumbu X dulu, kemudian sumbu Y, didapat (X:Y).

b. Plotting sudut peta dari A ke T, dengan cara tank garis dari A ke T, kemudian

dengan busur derajat/kompas orientasi ukur besar sudut A – T dari titik A ke arah

garis AT. Pembacaan sudut menggunakan Sistem Azimuth (0″ -360°) searah

putaran jarum Jain. Sudut ini berguna untuk mengorientasi arah dari A ke T.

c. Interprestasi peta untuk menentukan lintasan yang efisien dari A menuju T.

Interprestasi ini dapat berupa garis lurus ataupun berkelok-kelok mengikuti jalan

setapak, sungai ataupun punggungan. Harus dipaharni betul bentuk garis garis

kontur.

Plotting lintasan dan memperkirakan waktu tempuhnya. Faktor-faktor yang

mempengaruhi waktu tempuh :

a. Kemiringan lereng + Panjang lintasan

b. Keadaan dan kondisi medan (misal hutan lebat, semak berduri atau gurun

pasir).

c. Keadaan cuaca rata-rata.

d. Waktu pelaksanaan (yaitu pagi slang atau malam).

e. Kondisi fisik dan mental serta perlengkapan yang dibawa. E. MEMBACA KOORDINAT

Cara menyatakan koordinat ada dua cara, yaitu:

1. Cara Koordinat Peta

Menentukan koordinat ini dilakukan diatas peta dan  bukan dilapangan.

Penunjukkan koordinat ini menggunakan:

a. Sistem Enam Angka Misal, koordinat titik A (374;622), titik B (377;461)

b. Cara Delapan Angka Misal, koordinat titik A (3740;6225), titik B (3376;4614)

2. Cara Koordinat Geografis

Untuk Indonesia sebagai patokan perhitungan adalah  Jakarta yang dianggap 0

atau 106° 4$’ 27,79″. Sehingga di wilayah Indonesia awal perhitungan adalah kota

Jakarta. Bila di sebelah barat kota Jakarta akan berlaku pengurangan dan sebaliknya.

Sebagai patokan letak lintang adalah garis ekuator (sebagai 0). Untuk koordinat geografis

yang perlu diperhatikan adalah petunjuk letak peta.

F. SUDUT PETA

Sudut peta dihitung dari utara peta ke arah garis sasaran searah jarum jam. Sistem

pembacaan sudut dipakai Sistem Azimuth (0° – 360°). Sistem Azimuth adalah sistem

yang menggunakan sudut-sudut mendatar yang besarnya dihitung atau diukur sesuai

dengan arah jalannya jarum jam dari suatu garis yang tetap (arah utara). Bertujuan untuk

menentukan arah-arah di medan atau di peta serta untuk melakukan pengecekan arah

perjalanan, karena garis yang membentuk sudut kompas tersebut adalah arah lintasan

yang menghubungkan titik awal dan akhir perjalanan.

Sistem penghitungan sudut dibagi menjadi dua, berdasar sudut kompasnya

AZIMUTH : SUDUT KOMPAS

BACK AZIMUTH : Bila sudut kompas > 180° maka sudut kompas dikurangi 180°. Bila

sudut kompas < 1800 maka sudut kompas ditambah 180°.  G. TEKNIK MEMBACA PETA

Prinsipnya . ” Menentukan posisi dari arah perjalanan dengan membaca peta dan

menggunakan teknik orientasi dan resection, bila keadaan memungkinkan ” Titik Awal :

Kita harus tahu titik keberangkatan kita, balk itu di peta maupun di lapangan. Plot titik

tersebut di peta dan catat koordinatnya.

1. Tanda Medan : Gunakan tanda medan yang jelas (punggungan yang menerus,

aliran sungai, tebing, dll) sebagai guide line atau pedoman arah perjalanan. Kenali

tanda medan tersebut dengan menginterpretasikan peta.

2. Arah Kompas : Gunakan kompas untuk melihat arah perjalanan kita. Apakah

sesuai dengan arah punggungan atau sungai yang kita susuri.

3. Taksir Jarak : Dalam berjalan, usahakan selalu menaksir jarak dan selalu

memperhatikan arah perjalanan. Kita dapat melihat kearah belakang dan melihat

jumalah waktu yang kita pergunakan. Jarak dihitung dengan skala peta sehingga

kita memperoleh perkiraan jarak di peta. Perlu diingat, bahwa taksiran kita itu

tidak pasti.

+10′ X 10′ untuk peta 1 : 50.000

+ 20′ X 20′ untuk peta 1 : 100.000

Untuk peta ukuran 20′ X 20′ disebut juga LBD, sehingga pada 20′ pada garis

sepanjang khatulistiwa (40.068 km) merupakan paralel terpanjang.

40.068 km: (360° : 20′) = 40.068 km: (360° : 1/3) = 40.068 km: (360° X 3) 40.068

km : 1080 = 37,1 km

Jadi 20′ pada garis sepanjang khatulistiwa adalah 37,1 km. Jarak 37,1 km kalau

digambarkan dalam peta skala 1 : 50.000 akan mempunyai jarak : 37,1 km =

3.710.000 cm. Sehingga dipeta : 3.710.000: 50.000 = 74,2 cm.

Akibatnya I LBD peta 20′ x 20′ skala 1 : 50.000 di  sepanjang khatulistiwa

berukuran 74,2 X 74,2 cm. Hal ini tidak praktis dalam pemakaiannya.

4. Lembar Peta  Dikarenakan LBD tidak praktis pemakaiannya, karena  terlalu lebar. Maka tiap

LBD dibagi menjadi 4 bagian dengan ukuran masing-masing 10′ X 10′ atau 37,1

X 37,1 cm. Tiap-tiap bagian itu disebut Lembar Peta atau Sheet, dan diberi huruf

A, B, C, D. Jika skala peta tersebut 1 : 50.000, maka peta itu mempunyai ukuran

50.000 X 37,1 = 1.855.000 cm = 18,55 km (1ihat gambar).

5. Penomoran Lembar Peta

a. Meridian (garis bujur) yang melalui Jakarta adalah 106° 48′ 27,79″ BT, dipakai

sebagai meridian pokok untuk penornoran peta topografi di Indonesia. Jakarta

sebagai grs bujur 0

b. Panjang dari Barat ke Timur = 46° 20′, tetapi daerah yang dipetakan adalah

mulai dari 12″ sebelah barat meridian Jakarta. Daerah yang tidak dipetakan adalah

: 106° 48′ 27,79″ BT – (12° + 46° 20′ BT) = 8′ 27,79″, daerah ini merupakan taut

sehingga tidak penting untuk pemetaan darat. Tetapi penomorannya tetap dibuat

Keterangan

+ Daerah pada petak A dituliskan sheet 1/I-A dan titik paling Utara dan paling

Barat ada di Pulau Weh.

+ Cara pemberian nomor adalah dari Barat ke Timur dengn angka Arab (1, 2, 3, ,

139). Dari Utara ke Selatan dengan angka Romawi (I, II,III LI).

+ LBD selau mempunyai angka Arab dan Romawi. Contoh : LP No. 47[XLI atau

SHEET No. 47/XLI.

+ Lembar peta selalu diben huruf, dan huruf itu terpisah dari nomor LBDnya

dengan gar’s mendatar. Contoh: LP No. 47/XLI – B.

c. Pada uraian diatas disebutkan bahwa garis bujur 0° Jakarta selalu membagi dua

buah LBD. Maka untuk lembar peta lainnya selalu dapta dihitung berapa derajat

atau menit letak lembar peta itu dan’ bujur 0° Jakarta  Contoh: Lembar Peta No. 39/XL – A terletak diantara garis 7″ dan 70 10′ LS serta

0° 40′ dan 0° 50′ Timur Jakarta. Kita harus selalu  menyebutkan Lembar Peta

tersebut terletak di Barat atau Timur dan’ Jakarta.

d. Pada Lembar Peta skala 1 : 50.000, LBD-nya dibagi menjadi 4 bagian. Tetapi

untuk peta skala 1 : 25.000, 1 LBD-nya dibagi menjadi 16 bagian dan diberi huruf

a sampai q dengan menghilangkan huruf j

e. Mencari batas Timur dan Selatan suatu.Sheet atau Lembar Peta.

Contoh

+ Batas Timur dari bujur 0″ Jakarta adalah 47/3 X I = 15″ 40′ Timur Jakarta atau

15° 40′ – 12° = 3° 40′ BT Jakarta (batas paling Timur Sheet B).

+ Batas Selatan dan 0° Khatulistiwa adalah 47/3 : 1 = 13″ 40′ atau 13° 40′ 6″ = 7°

40′ LS. Karena terlatak pada Lembar Peta B dalam 1 LBD, maka dikurangi 10′.

Sehingga didapat : 7° 40′ – 10′ = 7″ 30′ LS

f. Mencari nomor Lembar Peta atau Sheet. Batas Timur Jakarta = 15″ 40′, sedang

batas Selatan adalah 7″ 30′ LS. + Jumlah LBD ke Timur = 15° 40′ X 3 X 1 LBD =

47 LBD + Jumlah LBD ke Selatan 13″ 40′ X 3 x 1 LBD = 41 LBD (XLI)

g. Mencari suatu Posisi/Lokasi Contoh : sebuah pesawat terbang jatuh pada

koordinat.- 110° 28′ BT dan 7° 30′ LS. Cari nomor Lembar Petanya Caranya

adalah

+ 110° 28′ – 94″ 40′ = 15″ 48′

15° 48′ X 3 = 47t’ 24′ (batas paling Timur)

+ 60 + 7″ 30′ = 13″ 30′

130 30′ X 3 = 40° 30′ (batas paling Selatan)

h. Perhitungan di Koordinat Geografis  + CARA I

Luas dari I Sheet peta adalah 10′ X 10′, seluas 18,55 km X 18,55 km pada peta 1 –

50.000. Sehingga di dapat (10 X 60 – 18,5 5) – 20 = 1,617, dibulatken menjadi

1,62 (sebagai konstanta). Misal peta yang digunakan peta Sheet No. 47/XLI – B

Triangulasi T. 932 terletak pada : 46 mm dari Timur dan 16 mm dari Selatan.

1915

Posisi Sheet 47/XLI – B

1060 48` 27,79″ + 30 40′ = 110° 28′ 27,79″

Dari Timur: 46 mm X 1,62 = 1′ l4°52″

1100 28′ 27,79″ BT – 1′ 14,52″ = 110° 27′ 13,27″ BT

(dikurangi karena semakin mendekati ke titik Jakarta).

Dari selatan : 16 mm X 1,62 = 25,92″

7° 30′ LS – 25,92″ = 7f’ 29′ 34,08″ LS (dikurangi karena semakin mendekati

equator).

Sehingga titik Triangulasi T. 932 terletak pada koordinat: 110° 27′ 13,27″ BT dan

7° 29′ 34,08″ LS. 1915

Untuk penggunaan peta 1 : 25.000, cara penghitungannya sama, hanya

konstantanya diubah menjadi 0,81, yang didapat dari :

{(5 X 60) : 18,55 1 : 20 = 0,808, dibulatkan menjadi 0,81

Luas dari 1 Sheet peta skala 1 : 25.000 adalah 5′ X 5′

+ CARA 11

Dari Timur : 46 mm = (46 : 37,1) X 60 = 1 ‘ 14,39″

110° 28′ 27,79″ BT – 1′ 14,39″ = 11 Of’ 27′ 13,40″ BT

Dari Selatan: 16 mm = (16 :37,1) X 60 = 25,87″

7° 30′ LS – 25,87″ = 7t’ 29′ 34,13″ LS

Sehingga titik Triangulasi T. 932 terletak pada koordinat : I I0” 27′ 13,40″ BT dan

7° 29′ 34,13″ LS. 1915  Pada hasil perhitungan Cara I dan Cara II terdapat  selisih 0,13″ untuk BT dan

0,05″ untuk LS. Hal ini tidak jadi masalah karena masih dalam batas toleransi dan

koreksi, yaitu kurang dari 1,00″.

Untuk penggunaan peta 5′ X 5′, 10′ X 10′ dan 20′ X 20′ tetap menggunakan

pembagi 37,1. Sebaliknya, Jika ada laporan dengan koordinat gralicule, maka cara

menentukan lokasinya pada peta adalah (Contoh) “Satu unit SRU menempati

sebuah lokasi dengan koordinat 110° 27′ 13,27″ BT dan 7° 29′ 34,08″ LS,

tentukan lokasi SRU tersebut pada peta Sheet No. 47/XLI – B” JAWAB : Posisi

peta 47/XLI -B : 110° 28′ 27,79″ BT sehingga 110° 27, 13,27″ BT 1 10 “27′ 13,27

1′ 14,52″ – 74,52″ ,74,52″ : 1,62 = 46 mm dari timur, dan ukurlah dengan

penggaris Batas Selatan : 7°30′ sehingga didapat 7030′ LS -7029′ 34.08″ = 25.92″

25,92″ : 1,62 = 16 mm dari selatan dan ukurlah dengan penggaris Titik

perpotongan kedua garis tersebut adalah lokasi dari SRU yang dimaksud, yaitu 46

mm dari sisi timur dan 16 mm dari sisi selatan berada di sekitar Tnangulasi T.932

 

About Hijaukubumiku

Jangan Pernah berhenti Untuk memperkecil Kerusakan lingkungan Satu Pohon seribu Kehidupan

Diskusi

Belum ada komentar.

Coretan Dinding

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Coretan Dinding

%d blogger menyukai ini: